Jumat, 17 September 2021

Tugas Jurnalistik "Feature"

 Petani Tembakau Mengejar Matahari 

                          

                          


Seperti yang telah dilakukan tiap tahunnya tiap bulan September petani tembakau dari wilayah Musuk, Cepogo dan Selo selalu turun ke daerah-daerah daratan rendah seperti contohnya desa Papringan. Petani tembakau membawa turun tembakau ranjangannya dengan memakai mobil brondol bahkan juga truk demi mendapatkan sinar matahari. Alasan petani membawa tembakaunya karena sinar matahari diwilayahnya kurang terik. Tembakau harus dijemur di bawah sinar matahari yang terik dan harus kering selama satu hari, itu bertujuan agar menghasilkan tembakau berkualitas bagus dan harganya mahal. Apabila tembakau yang mereka bawa tidak kering maka bisa membuat mereka rugi. Para petani itu mencari sawah atau lapangan yang luas untuk menaruh tembakaunya, tembakau yang dibawa biasanya sudah dijereng dianyaman bambu atau biasa kita panggil widik, jadi setelah sampai lokasi petani tinggal menjemurnya. Maka tidak heran kalau untuk saat ini sering menemui tembakau berjejeran di sawah, lapangan, bahkan pinggir jalan di desa Papringan. Ketika kita melewati tempat-tempat tersebut akan tercium bau tembakau yang sangat menyengat. Saat para petani menunggu tembakaunya kering biasanya mereka tidur di bawah pohon dengan menggelar tikar atau bahkan mereka membuat tenda untuk berteduh. Terkadang cuaca di desa Papringan juga tidak stabil seperti tiba-tiba mendung kemudian turun hujan. Itu membuat para petani panik dan harus segera mengangkat tembakau-tembakaunya. Memang cuaca saat ini sangat sulit untuk diprediksi, dan tentunya para petani harus bersiap dengan segara risikonya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  "Ritual Bunga Mawar" Cerita: Di kota Solo, terdapat sebuah tradisi kuno yang dilestarikan dari generasi ke generasi, yaitu ...